Langsung ke konten utama

GEGERKAN DUNIA DENGAN TULISAN

Hari-hari yang lalu sempat saya dikejutkan oleh beberapa pesan singkat berisi pertanyaan-pertanyaan yang sedikit memutar otak dan menjulingkan mata sebagai ekspresi keanehan. Dari mulai bertanya tentang apa makna hidup, bagaimana rasanya dikucilkan, hingga pertanyaan “konyol” besok mau makan apa, dan juga pesan berbunyi memohon, “Please help me, bla bla bla...” Semua dikirim dalam tempo bergantian dengan pengirim yang berbeda pula.

Senang ketika bisa menjawab dan menjadi problem solver bagi orang lain. Tapi di lain pihak terhibur juga oleh pesan-pesan sedikit “kurang penting” dari para pengirim. Setiap pesan yang mereka kirimkan pada kita memiliki varian berbeda dari mulai cara menulis, isi, dan pastinya tujuan. Pernahkah kita sejenak menganalisa tentang alasan mereka mengirimkan pesan tersebut (khusus) pada kita? Atau justru ke-geer-an karena merasa bahwa dia mengirimkan pesan singkat tersebut hanya pada kita, padahal ia mengirimkannya juga untuk orang banyak. Selalu ada hal-hal yang bisa dikulik pada setiap peristiwa sederhana, bahkan untuk persoalan “pesan singkat alias SMS-Short Message Service” macam ini sekalipun.

Berbicara mengenai aktivitas kirim-mengirim SMS, tentu tak lepas dari konsep menulis. Akan tetapi dengan cara yang berbeda. Berapa banyak orang saat ini yang menggunakan kemampuan “menulisnya” hanya untuk berkirim SMS? Banyak sekali, tak terhingga mungkin. Coba bayangkan jika hobi “menulis” SMS ini diaplikasikan untuk kepentingan menyebar kebaikan. Menulis hal-hal bermanfaat, mengirimkan kata-kata inspiratif dan motivatif. Pasti akan tercipta sebuah sistem texting yang melulu berbicara soal hal-hal bermutu dan positif. Coba perkirakan berapa karakter dan kata serta kalimat yang sudah kita bentuk melalui SMS, pastinya tidak terhitung banyaknya. Barangkali bila diarsip sudah menjadi satu buku siap cetak. Masalahnya buku yang seperti apakah yang kita ciptakan? Inilah problem kita semua. Kesadaran untuk menciptakan rantai positif dalam aktivitas berkomunikasi masih minim.

Fenomena “menulis” SMS, tweet di Twitter, atau status di Facebook adalah bukti dari bentuk sudah sadarnya masyarakat akan pentingnya menulis dan keasyikannya. Semua orang saat ini mulai ngeh kok dengan aktivitas menulis. Tapi ke arah manakah kesadaran itu? Maka jadikanlah diri kita sebagai pelopor untuk membawa kesadaran menulis sebagai wadah menggerakkan kebaikan. Bukan isian kosong penuh sampah, tanpa sama sekali pernah mencoba menyebarkan kebaikan, inspirasi, motivasi, dan keseriusan. Boleh lah terkadang kita bersenang-senang dengan menulis hal-hal ringan atau guyonan, tapi juga harus seimbang dengan sisi yang lainnya yaitu spirit untuk selalu menebar manfaat dari kebaikan-kebaikan yang kita rangkai dalam TULISAN. Untuk itu selamat berkarya, selamat menulis, dan teriakkan LUAR BIASA bagi seluruh MANUSIA yang peduli akan kisah suksesnya. KITA BISA KARENA KITA TAHU SUKSES ADA DI DEPAN MATA!!!

NB: Terima kasih bagi teman-teman yang tidak bisa saya sebutkan namanya di sini. Setiap langkah kalian adalah inspirasi bagiku. Aku tau kalian adalah partner terhebat bagi kisah sukses kita semua.

Komentar

  1. bagus asti XD enak baca tulisanmu hehehe
    .ayu.

    BalasHapus
  2. sudut pandang antropologi positivistik XD

    BalasHapus
  3. makasih asti, haha,, Mrs. Tomlinson

    BalasHapus

Posting Komentar

Berikan komentar, apapun yang sekiranya bermanfaat bagi banyak orang. Ini adalah forum untuk berbagi. Menuliskan satu kebaikan adalah murni untuk kebaikan bersama...

Postingan populer dari blog ini

MASA

Malam itu aku tertuntun dengan tanpa sadar oleh hawa yang tak pernah kurasa sebelumnya. Perlahan tapi pasti aku mulai langkahkan kaki pada anak tangga yang terasa menanjak dan jauh dari jangkauan. Semilir angin subuh semakin terdeteksi. Bertanya dalam hati apakah aku sudah berjalan sangat lama hingga subuhpun datang hampir menyongsong? Nafasku mulai terengah oleh dinginnya bisikan pohon dan tawa jangkrik yang masih terdengar walau sendu. Hati berdebar tak karuan. Bau itu semakin menyadarkanku akan memori lama yang mulai bisa kukubur bertahun lalu. Sayangnya aku tak ingat memori yang mana itu. Dimanakah aku? Terdamparkah aku? Tak tahan diri ini harus bergelut dengan untaian pertanyaan yang terus menderu dalam pikir. Tangga besi yang kunaiki ingatkanku pada deburan langkah kaki masa lalu. Dindingnya masih sama, bangku coklatnyapun masih sama. Jendela itu, ya jendela-jendela itu pun terlihat masih sama dan tak asing bagiku, langit-langitnya yang melengkung juga terlihat akrab oleh mataku....

Jejak

Perjuangan Kaum Intelektual, ibarat mengikuti jejak para Nabi. Terus & terus tanpa kenal lelah menuju sebuah kemandirian masyarakat MADANI & Ridho Allah Semata. Jikalau tak cukup usiaku... Aku berharap akan terus berlanjut pada generasi berikutnya.

Suatu saat nanti

S uatu saat nanti... kita akan lihat gambar ini dimanapun kita berada! Bahkan disetiap pintu hati kaum Dhu'afa... Ada sebuah harapan untuk masa depan... Bukan hanya untuk mereka... Tapi juga untuk dan bagi kita! Ini bukan khayalan... Karena ini PASTI! Jiwa yang putih akan melihat... jauh mendahului yang lainnya! Semoga itu aku ! Semoga itu kamu!