Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2011

SAMOSA YANG TERLEWAT

Samosa berminyak yang dibungkus sobekan kertas dari buku trigonometri. Apa yang Anda pikirkan dari potongan kalimat dalam novel Between Assassinations tersebut? Biasa saja? Tak ada yang spesial? Itulah mungkin pandangan orang pada umumnya akan arti dari kalimat di atas. Kita paham maknanya, namun kita tak mampu menggalinya, atau mungkin tak mau tau lebih jauh. Yang penting terbaca, itu sudah cukup. Masyarakat umum dengan latar belakang yang beragam punya sudut pandang yang hampir sama mengenai pengertian kalimat di atas. Hanya makanan bernama samosa dan dibungkus sobekan kertas. Begitu juga dengan saya. Namun beda halnya jika kita sodorkan kalimat ini pada antropolog. Mereka akan berpikir komplek tentang kalimat sederhana di atas. Mengkajinya secara lebih dalam. Apa makna dari samosa berminyak. Menjelaskan masyarakat yang manakah pembeli makanan berminyak ini. Menerangkan kondisi ekonomi yang seperti apakah konsumen makanan ini. Mengapa harus dibungkus dengan sobeka...

BERSUNYI DALAM MALAM

Jemari menari menitikkan kata-kata yang dia sendiri tak paham tentang apa yang seharusnya ditorehkan. Hanya barisan huruf yang lama-lama tersusun menjadi kata baku tak baku. Inilah imajinasi. Imajinasi yang tersorot dari masih berfungsinya otak. Penuh gairah dan daya lamunan tak berdasar. Semua hanya kesenangan untuk saat ini. Lagi-lagi hanya untuk menemani si otak bekerja, lebih tepatnya membantu otak me- file kan segala macam rekaman dalam deretan kalimat. Ketika hari ini secara tak sadar belum memberikan kesan luar biasa, mungkin esok akan jadi titik balik di mana ini semua menjadi luar biasa atau apesnya di luar kebiasaan. Apa itu? Hanya diri sendiri yang akan merasakan nantinya. Perlukah dipikirkan? Perlu…agar semua tak berakhir di luar kebiasaan, tapi berdestinasi ke hal luar biasa. Semangat dan sukses untuk kita semua.

ANTRO DI HATI

AN-TRO-PO-LO-GI. Mungkin banyak yang tidak tahu apa itu. Jangan-jangan justru malah sok tahu, dan mendefinisikannya sebagai Arkeologi atau Sosiologi. Inilah salah satu tugas awal yang harus kami jawab di akhir pendidikan sebagai mahasiswa Antropologi. Membedakan antara Antropologi dan Sosiologi serta menjelaskannya kepada khalayak luas. Setelah kurang lebih satu minggu menjadi mahasisiwi Antropologi Budaya, begitu banyak hal yang didapat. Mengamati, menyampaikan, dan merangkainya dalam susunan kata-kata menjadi tugas teratur kami nantinya. Hal lain yang tak kalah menyenangkan adalah menonton film (mata kuliah apresiasi film etnografi),   mewarnai wayang karton dengan cat tembok (apresiasi kriya etnik), hingga lucunya adalah tugas membaca novel impor. Sungguh tugas-tugas yang menyenangkan. Semoga memang benar adanya.  Adapun mata kuliah Antropologi yang menarik bagi saya adalah Antropologi Ragawi. Jangan bayangkan kami akan membedah mayat layaknya mahasisiwa kedokte...

Saat Tuk Lepas

Setiap orang atau mungkin lebih tepatnya beberapa orang pasti mengenal betul bagaimana rasa yang tercipta ketika saat itu tiba. Saat dimana jubah putih abu (baca SMA) benar-benar lepas dari tubuh kita. Segala beban seolah terhempas dari diri. Namun, euforia yang ada seolah tak menyadarkan kita bahwa akan ada tanggung jawab yang lebih berat sebagai si anak besar (baca Mahasiswa). Tapi tak apalah kesenangan itu kita umbar sejenak. Nanti saat sudah terjun di dunia yang baru dengan jubah yang baru pula, kita pasti bisa bertransisi dan berselaras sesuai tanggung jawab yang diberikan. Semoga kegembiraan lampau yang saat ini bahkan masih berlangsung, tidak membuat kita kebablasan menikmatinya. Salam sukses ...