Langsung ke konten utama

GALAU AKADEMIK? NO WAY!

Saat ini saya bukanlah mahasiswa baru yang kebingungan akan urusan akademik, bagaimana kuliah itu atau seperti apa sistem ujian dan penilaiannya. Namun, keheranan terhadap perubahan kurikulum di tiap semesternya benar-benar membawa sensasi lain yang ternyata masih sama, bingung. Mata kuliah berubah-ubah, dari mulai yang ada di bawah kendali jurusan, fakultas, hingga universitas. Pergantian nama dan penambahan serta pengurangan mata kuliah adalah kegiatan lain yang terus berjalan selama kurang lebih hampir tiga semester saya berkelut sebagai mahasiswi. Entah apa visi utama dari segala gubahan itu. Ritme satu angkatan ke angkatan yang lain memiliki perbedaan dalam hal bekal mata kuliah yang diambil, ini semua dikarenakan segala revisi kurikulum yang sungguh memusingkan.

Ada mata kuliah yang berstatus wajib universitas dan secara otomatis harus diambil oleh kami. Namun, itupun masih mengundang tanya. Tahun ini Universitas mengambil kebijakan anyar bahwa kami wajib mengambil mata kuliah Bahasa Indonesia. Di lain pihak semester lalu kami telah mengambil mata kuliah dengan inti yang sebenarnya sama yakni Komposisi dan Menulis Kreatif-mata kuliah ini berstatus wajib jurusan. Kami khawatir, jika dua mata kuliah tersebut sama maka keduanya ada dalam satu SKS dan bukan termasuk SKS yang berbeda. Jika kepastian tidak kunjung kami dapat hingga masa revisi KRS (Kartu Rencana Studi) berakhir, tentu bukan kepalang paniknya. Akan tetapi sebagai mahasiswa yang cerdas, kami “berusaha” tenang.

Kepusingan ini membuat kami semua harus menghadap ke pihak jurusan dan menanyakan apa yang harus diperbuat. Mereka mengatakan bahwa akan ada pengajuan surat berkaitan hal ini dan mohon menunggu hingga satu minggu. Satu minggu? Waktu yang lama, mengingat minggu tersebut adalah jadwal untuk revisi KRS. Selama daftar mata kuliah belum fix, ketidakpastian akan terus menjadi bayang-bayang yang menyulitkan proses pengambilan keputusan ketika masa revisi tiba, apakah akan di-drop atau lanjut.

Memang berat menjadi mahasiswa jika tidak memiliki kepahaman dan kemandirian tangguh. Saya rasa cerita di atas adalah kenyataan berharga lain dari hanya sekedar belajar di dalam kelas. Pengalaman ini akan menjadi satu motivasi dan juga penyadaran bagi kita semua, bahwa dunia luar lebih kejam dari sekedar urusan akademik perkuliahan. Semoga bermanfaat, selamat berproses, dan salam sukses kawanku sekalian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MASA

Malam itu aku tertuntun dengan tanpa sadar oleh hawa yang tak pernah kurasa sebelumnya. Perlahan tapi pasti aku mulai langkahkan kaki pada anak tangga yang terasa menanjak dan jauh dari jangkauan. Semilir angin subuh semakin terdeteksi. Bertanya dalam hati apakah aku sudah berjalan sangat lama hingga subuhpun datang hampir menyongsong? Nafasku mulai terengah oleh dinginnya bisikan pohon dan tawa jangkrik yang masih terdengar walau sendu. Hati berdebar tak karuan. Bau itu semakin menyadarkanku akan memori lama yang mulai bisa kukubur bertahun lalu. Sayangnya aku tak ingat memori yang mana itu. Dimanakah aku? Terdamparkah aku? Tak tahan diri ini harus bergelut dengan untaian pertanyaan yang terus menderu dalam pikir. Tangga besi yang kunaiki ingatkanku pada deburan langkah kaki masa lalu. Dindingnya masih sama, bangku coklatnyapun masih sama. Jendela itu, ya jendela-jendela itu pun terlihat masih sama dan tak asing bagiku, langit-langitnya yang melengkung juga terlihat akrab oleh mataku....

Jejak

Perjuangan Kaum Intelektual, ibarat mengikuti jejak para Nabi. Terus & terus tanpa kenal lelah menuju sebuah kemandirian masyarakat MADANI & Ridho Allah Semata. Jikalau tak cukup usiaku... Aku berharap akan terus berlanjut pada generasi berikutnya.

Suatu saat nanti

S uatu saat nanti... kita akan lihat gambar ini dimanapun kita berada! Bahkan disetiap pintu hati kaum Dhu'afa... Ada sebuah harapan untuk masa depan... Bukan hanya untuk mereka... Tapi juga untuk dan bagi kita! Ini bukan khayalan... Karena ini PASTI! Jiwa yang putih akan melihat... jauh mendahului yang lainnya! Semoga itu aku ! Semoga itu kamu!