Saat ini saya bukanlah mahasiswa baru yang kebingungan akan urusan akademik, bagaimana kuliah itu atau seperti apa sistem ujian dan penilaiannya. Namun, keheranan terhadap perubahan kurikulum di tiap semesternya benar-benar membawa sensasi lain yang ternyata masih sama, bingung. Mata kuliah berubah-ubah, dari mulai yang ada di bawah kendali jurusan, fakultas, hingga universitas. Pergantian nama dan penambahan serta pengurangan mata kuliah adalah kegiatan lain yang terus berjalan selama kurang lebih hampir tiga semester saya berkelut sebagai mahasiswi. Entah apa visi utama dari segala gubahan itu. Ritme satu angkatan ke angkatan yang lain memiliki perbedaan dalam hal bekal mata kuliah yang diambil, ini semua dikarenakan segala revisi kurikulum yang sungguh memusingkan.
Ada mata kuliah yang berstatus wajib universitas dan secara otomatis harus diambil oleh kami. Namun, itupun masih mengundang tanya. Tahun ini Universitas mengambil kebijakan anyar bahwa kami wajib mengambil mata kuliah Bahasa Indonesia. Di lain pihak semester lalu kami telah mengambil mata kuliah dengan inti yang sebenarnya sama yakni Komposisi dan Menulis Kreatif-mata kuliah ini berstatus wajib jurusan. Kami khawatir, jika dua mata kuliah tersebut sama maka keduanya ada dalam satu SKS dan bukan termasuk SKS yang berbeda. Jika kepastian tidak kunjung kami dapat hingga masa revisi KRS (Kartu Rencana Studi) berakhir, tentu bukan kepalang paniknya. Akan tetapi sebagai mahasiswa yang cerdas, kami “berusaha” tenang.
Kepusingan ini membuat kami semua harus menghadap ke pihak jurusan dan menanyakan apa yang harus diperbuat. Mereka mengatakan bahwa akan ada pengajuan surat berkaitan hal ini dan mohon menunggu hingga satu minggu. Satu minggu? Waktu yang lama, mengingat minggu tersebut adalah jadwal untuk revisi KRS. Selama daftar mata kuliah belum fix, ketidakpastian akan terus menjadi bayang-bayang yang menyulitkan proses pengambilan keputusan ketika masa revisi tiba, apakah akan di-drop atau lanjut.
Memang berat menjadi mahasiswa jika tidak memiliki kepahaman dan kemandirian tangguh. Saya rasa cerita di atas adalah kenyataan berharga lain dari hanya sekedar belajar di dalam kelas. Pengalaman ini akan menjadi satu motivasi dan juga penyadaran bagi kita semua, bahwa dunia luar lebih kejam dari sekedar urusan akademik perkuliahan. Semoga bermanfaat, selamat berproses, dan salam sukses kawanku sekalian.
Komentar
Posting Komentar
Berikan komentar, apapun yang sekiranya bermanfaat bagi banyak orang. Ini adalah forum untuk berbagi. Menuliskan satu kebaikan adalah murni untuk kebaikan bersama...