Langsung ke konten utama

MASA

Malam itu aku tertuntun dengan tanpa sadar oleh hawa yang tak pernah kurasa sebelumnya. Perlahan tapi pasti aku mulai langkahkan kaki pada anak tangga yang terasa menanjak dan jauh dari jangkauan. Semilir angin subuh semakin terdeteksi. Bertanya dalam hati apakah aku sudah berjalan sangat lama hingga subuhpun datang hampir menyongsong? Nafasku mulai terengah oleh dinginnya bisikan pohon dan tawa jangkrik yang masih terdengar walau sendu. Hati berdebar tak karuan.

Bau itu semakin menyadarkanku akan memori lama yang mulai bisa kukubur bertahun lalu. Sayangnya aku tak ingat memori yang mana itu. Dimanakah aku? Terdamparkah aku? Tak tahan diri ini harus bergelut dengan untaian pertanyaan yang terus menderu dalam pikir. Tangga besi yang kunaiki ingatkanku pada deburan langkah kaki masa lalu. Dindingnya masih sama, bangku coklatnyapun masih sama. Jendela itu, ya jendela-jendela itu pun terlihat masih sama dan tak asing bagiku, langit-langitnya yang melengkung juga terlihat akrab oleh mataku. Bagaimana aku bisa mengatakan itu semua sama jika aku sendiri tak ingat pernah datang ke tempat ini?

Lorong ini sepi, yang ada hanya ruangan-ruangan kecil penuh meja dan kursi. Aku masih tak ingat tempat apa ini sebenarnya. Semakin ku menjauh dari langkah terdahulu, semakin silau pandangan ini. Sinar mulai merangsek masuk namun aku belum jua mendapat ide tempat apa ini. Terkesiap diriku ketika perlahan namun pasti kudengar riuh langkah dan gelak tawa. Ada kehidupan rupanya di sini, sejenak kuulum senyum di bibir. Kostum mereka senada, warnanya pun sama. Kenyataan ini semakin membuatku bingung dan pusing. Mereka satu per satu melewatiku tanpa melihat ke arahku apalagi melempar senyum padaku. Aku berteriak dan tak ada satupun yang mendengarku. Ada apakah dengan diriku? Mengapa mereka tak dapat melihatku?

Menangis diri ini terisak oleh realita yang tak bisa dimengerti. Berlari menyusuri koridor dan terus mengusap air yang tak henti mengucur dari sudut-sudut mataku sembari terus mencari jalan keluar. Masih bergejolak dalam hati dimanakah sebenarnya aku? Semakin cepat langkah kaki ini berlari hingga melemparku pada sebuah tulisan berwarna emas menyala bertulis......

Kriiiiiiiing kriiiiiiiiiiiiiiing sepertinya alarmku berbunyi. Beruntungnya lagi mataku bisa dibuka dan aaah....sial, ternyata tadi hanya mimpi. Kutegakkan badan dan kuusap kedua mataku. Lega, itulah yang kurasa saat tau jika itu semua hanya perjalanan fiktif. Tak benar rupanya aku telah bertualang di negeri asing. Walau begitu, tulisan tadi masih membawaku pada misteri yang sumbang. Kuingat kembali tulisan apakah itu, ada memori apa diriku dengan arti dari tulisan itu? Otak terus memutar video mimpi yang kuharap telah ter-save dengan baik di hardisk. Terus kutelisik dalam data-data yang mungkin terselip, dan sampailah aku pada folder bertulis Memori Indah Putih Abu. Kubuka file tersebut dan kutemukan sebuah foto yang sama persis dengan tulisan emas itu. Kembali kusunggingkan senyum bahagia, tulisan itu ternyata SMA N 1 MAGELANG. Ooh...huh. Benar-benar terperas otak ini untuk memori tersebut.

Lagi-lagi kutatap foto itu dengan melempar senyum yang lama-lama justru menjadi menggila dengan gelak tawa tak tertahan. Mimpi itu sungguh ingatkanku bahwa tempat ini benar-benar mengambil habis memori hardisk dalam otakku. Begitu banyak kenangan yang tersimpan dalam tiap sisi ruang dan waktu tiga tahunku. Betapa berarti kenangan ini bagiku. Tangis dan takut dalam mimpi tersebut aku yakini sebagai sebuah rasa yang tak bisa dijelaskan. Aku takut dan akan sangat sedih jika nantinya kembali tanpa membawa kabar kemenangan. Aku hanya ingin membawa buah tangan dan cerita sukses ketika kembali ke dalamnya, bukan sebagai murid biasa, tapi murid yang sukses dengan kehidupan nyatanya sebagai seorang dewasa.

Terima kasih Gladiool tercinta, yang kutahu darimu hanyalah kenangan indah dan akan selamanya begitu. Kututup file itu dengan air mata mengikutinya. Hati dan pikiranku tak cukup luas menampung segudang kisah yang kau tawarkan di masa itu. Kumohon tetaplah di sini, di hati dan jiwaku. Wajahmu yang semakin tua akan tetap menaungiku dengan semangat muda. Tunggu aku menatapmu kembali dengan kisah yang lain, sekarang, nanti, dan seterusnya. Dariku yang merindukan semua tentangmu dan mereka sosok-sosok yang pernah, sedang, dan akan bersamamu. (Qoswan IPN/ Class of 2011)

Komentar

Posting Komentar

Berikan komentar, apapun yang sekiranya bermanfaat bagi banyak orang. Ini adalah forum untuk berbagi. Menuliskan satu kebaikan adalah murni untuk kebaikan bersama...

Postingan populer dari blog ini

Jejak

Perjuangan Kaum Intelektual, ibarat mengikuti jejak para Nabi. Terus & terus tanpa kenal lelah menuju sebuah kemandirian masyarakat MADANI & Ridho Allah Semata. Jikalau tak cukup usiaku... Aku berharap akan terus berlanjut pada generasi berikutnya.

Suatu saat nanti

S uatu saat nanti... kita akan lihat gambar ini dimanapun kita berada! Bahkan disetiap pintu hati kaum Dhu'afa... Ada sebuah harapan untuk masa depan... Bukan hanya untuk mereka... Tapi juga untuk dan bagi kita! Ini bukan khayalan... Karena ini PASTI! Jiwa yang putih akan melihat... jauh mendahului yang lainnya! Semoga itu aku ! Semoga itu kamu!