Langsung ke konten utama

MATA KITA BERBEDA

Melihat dengan mata tak sama halnya melihat dengan pikiran. Mata hanya menyuguhkan realita yang seolah tak mampu kita rubah. Melihat dengan pikiran adalah makna lain dari mencoba menghias sebuah kertas yang tampaknya sudah indah ataupun malah sebaliknya merusak yang sudah berantakan. Mata hanya akan membawamu pada segala hal yang ada di permukaan, tapi pikiran akan mendorong mata mengantarmu pada sebuah imajinasi. Imajinasi tak akan terbatas hanya pada apa yang kita lihat, tapi imajinasi akan selalu membawa kita pada gambaran yang tak pernah statis. Selalu berubah adalah sisi lain dari melihat menggunakan pikiran.

Saat kau pejamkan mata yang ada hanya sunyi dan bukan gambaran yang sudah nyata. Memori mungkin menjadi salah satu unsur yang kita lihat saat mulai pejamkan mata. Memandang sekeliling sungguh bukan hal yang mudah. Kita terbiasa melihat banyak hal secara sekilas, itulah kelemahan mata. Orang-orang berjalan, mereka yang berkendara dengan tunggangannya, pelajar berseragam, penjual makanan atau banyak hal lain yang menurut kita hanya sebuah rutinitas hidup dan siklus harian yang takkan berubah. Namun saat kita mau libatkan pikiran ketika melihatnya, imajinasi akan mulai menunjukkan perannya sebagai pemain ulung.

Rubahlah mereka dalam bayangan dan imajinasi yang kita bentuk. Lihatlah mereka dengan pikiran imajinasi kita. Pikiran kita adalah imajinasi kita. Tutup mata sejenak pikirkan hal-hal gila tentang rutinitas itu. Orang-orang menyusuri jalanan bersepeda roda satu, pelajar berkostum badut lengkap dengan ransel di punggung mereka, atau mungkin penjual jalanan yang menjajakkan dagangan mereka dengan bernyanyi ala rapper. Mungkin semua imajinasi itu terdengar konyol, namun itulah melihat dengan pikiran, menghasilkan daya dorong untuk ciptakan imajinasi dalam bentuk yang kita mau.

Imajinasi membawa kita pada kemungkinan yang mutlak. Jangan pedulikan terjadi atau tidak, bersenang-senanglah dengan imajinasi kita. Rubahlah semua yang ada di hadapan kita sesuka yang kita bisa. Akan tetapi jika imajinasi hanya sebatas untuk bersenang-senang maka semuanya akan terasa tetap hampa. Kita tidak bisa hanya hidup dalam kesenangan semu. Buatlah pikiran kita berpikir dan melihat hal lain macam masa depan. Kita berhak bermimpi tentang masa depan apa yang ingin kita raih. Bersama-sama kita mulai melihat menggunakan pikiran untuk merancang masa depan. Hiasilah takdir yang sudah Tuhan tetapkan untuk kita dengan ornamen imajiner yang berpeluang untuk menjadi nyata. Sukses berawal dari mimpi, dan mimpi hanya muncul ketika imajinasi masuk di dalamnya karena imajinasi hadir melalui cara kita melihat, ya....tak lain adalah melihat dengan pikiran. Ingat kawan, mataku, mata kita, mata setiap orang berbeda tergantung imajinasi dan pikiran yang terbangun. Berikan imajinasi terbaik kita dalam menggapai masa depan indah. Salam sukses kawan !!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MASA

Malam itu aku tertuntun dengan tanpa sadar oleh hawa yang tak pernah kurasa sebelumnya. Perlahan tapi pasti aku mulai langkahkan kaki pada anak tangga yang terasa menanjak dan jauh dari jangkauan. Semilir angin subuh semakin terdeteksi. Bertanya dalam hati apakah aku sudah berjalan sangat lama hingga subuhpun datang hampir menyongsong? Nafasku mulai terengah oleh dinginnya bisikan pohon dan tawa jangkrik yang masih terdengar walau sendu. Hati berdebar tak karuan. Bau itu semakin menyadarkanku akan memori lama yang mulai bisa kukubur bertahun lalu. Sayangnya aku tak ingat memori yang mana itu. Dimanakah aku? Terdamparkah aku? Tak tahan diri ini harus bergelut dengan untaian pertanyaan yang terus menderu dalam pikir. Tangga besi yang kunaiki ingatkanku pada deburan langkah kaki masa lalu. Dindingnya masih sama, bangku coklatnyapun masih sama. Jendela itu, ya jendela-jendela itu pun terlihat masih sama dan tak asing bagiku, langit-langitnya yang melengkung juga terlihat akrab oleh mataku....

Jejak

Perjuangan Kaum Intelektual, ibarat mengikuti jejak para Nabi. Terus & terus tanpa kenal lelah menuju sebuah kemandirian masyarakat MADANI & Ridho Allah Semata. Jikalau tak cukup usiaku... Aku berharap akan terus berlanjut pada generasi berikutnya.

Suatu saat nanti

S uatu saat nanti... kita akan lihat gambar ini dimanapun kita berada! Bahkan disetiap pintu hati kaum Dhu'afa... Ada sebuah harapan untuk masa depan... Bukan hanya untuk mereka... Tapi juga untuk dan bagi kita! Ini bukan khayalan... Karena ini PASTI! Jiwa yang putih akan melihat... jauh mendahului yang lainnya! Semoga itu aku ! Semoga itu kamu!