Langsung ke konten utama

BERSUNYI DALAM MALAM

Jemari menari menitikkan kata-kata yang dia sendiri tak paham tentang apa yang seharusnya ditorehkan. Hanya barisan huruf yang lama-lama tersusun menjadi kata baku tak baku. Inilah imajinasi. Imajinasi yang tersorot dari masih berfungsinya otak. Penuh gairah dan daya lamunan tak berdasar. Semua hanya kesenangan untuk saat ini. Lagi-lagi hanya untuk menemani si otak bekerja, lebih tepatnya membantu otak me-file kan segala macam rekaman dalam deretan kalimat.

Ketika hari ini secara tak sadar belum memberikan kesan luar biasa, mungkin esok akan jadi titik balik di mana ini semua menjadi luar biasa atau apesnya di luar kebiasaan. Apa itu? Hanya diri sendiri yang akan merasakan nantinya. Perlukah dipikirkan? Perlu…agar semua tak berakhir di luar kebiasaan, tapi berdestinasi ke hal luar biasa. Semangat dan sukses untuk kita semua.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MASA

Malam itu aku tertuntun dengan tanpa sadar oleh hawa yang tak pernah kurasa sebelumnya. Perlahan tapi pasti aku mulai langkahkan kaki pada anak tangga yang terasa menanjak dan jauh dari jangkauan. Semilir angin subuh semakin terdeteksi. Bertanya dalam hati apakah aku sudah berjalan sangat lama hingga subuhpun datang hampir menyongsong? Nafasku mulai terengah oleh dinginnya bisikan pohon dan tawa jangkrik yang masih terdengar walau sendu. Hati berdebar tak karuan. Bau itu semakin menyadarkanku akan memori lama yang mulai bisa kukubur bertahun lalu. Sayangnya aku tak ingat memori yang mana itu. Dimanakah aku? Terdamparkah aku? Tak tahan diri ini harus bergelut dengan untaian pertanyaan yang terus menderu dalam pikir. Tangga besi yang kunaiki ingatkanku pada deburan langkah kaki masa lalu. Dindingnya masih sama, bangku coklatnyapun masih sama. Jendela itu, ya jendela-jendela itu pun terlihat masih sama dan tak asing bagiku, langit-langitnya yang melengkung juga terlihat akrab oleh mataku....

Jejak

Perjuangan Kaum Intelektual, ibarat mengikuti jejak para Nabi. Terus & terus tanpa kenal lelah menuju sebuah kemandirian masyarakat MADANI & Ridho Allah Semata. Jikalau tak cukup usiaku... Aku berharap akan terus berlanjut pada generasi berikutnya.

Suatu saat nanti

S uatu saat nanti... kita akan lihat gambar ini dimanapun kita berada! Bahkan disetiap pintu hati kaum Dhu'afa... Ada sebuah harapan untuk masa depan... Bukan hanya untuk mereka... Tapi juga untuk dan bagi kita! Ini bukan khayalan... Karena ini PASTI! Jiwa yang putih akan melihat... jauh mendahului yang lainnya! Semoga itu aku ! Semoga itu kamu!