Langsung ke konten utama

SAMOSA YANG TERLEWAT

Samosa berminyak yang dibungkus sobekan kertas dari buku trigonometri. Apa yang Anda pikirkan dari potongan kalimat dalam novel Between Assassinations tersebut? Biasa saja? Tak ada yang spesial? Itulah mungkin pandangan orang pada umumnya akan arti dari kalimat di atas. Kita paham maknanya, namun kita tak mampu menggalinya, atau mungkin tak mau tau lebih jauh. Yang penting terbaca, itu sudah cukup.

Masyarakat umum dengan latar belakang yang beragam punya sudut pandang yang hampir sama mengenai pengertian kalimat di atas. Hanya makanan bernama samosa dan dibungkus sobekan kertas. Begitu juga dengan saya. Namun beda halnya jika kita sodorkan kalimat ini pada antropolog. Mereka akan berpikir komplek tentang kalimat sederhana di atas. Mengkajinya secara lebih dalam. Apa makna dari samosa berminyak. Menjelaskan masyarakat yang manakah pembeli makanan berminyak ini. Menerangkan kondisi ekonomi yang seperti apakah konsumen makanan ini. Mengapa harus dibungkus dengan sobekan kertas buku triginometri, dan hal komplek lain sesuai kedalaman pemahaman para pembaca antropolognya.

Pertama kali membaca kalimat tersebut, sungguh tak terasa ada sesuatu yang spesial di mata saya. Ini menandakan bahwa saya masih membaca dengan kaca mata orang biasa, bukan kaca mata antropolog. Padahal, antropologi adalah bidang yang sedang saya pelajari. Sungguh sulit rupanya memahami satu hal secara detail, secara mendalam, secara menyeluruh. Berpikir simpel memang memudahkan, namun berpikir komplek mendetail mampu membawa kita pada sebuah kesimpulan yang baik dan benar.

Sungguh tertohok rasanya mengetahui kenyataan bahwa mata saya bahkan belum berakomodasi secara benar sebagai calon antropolog. Kepekaan saya rupanya masih di ambang garis dasar. Butuh banyak berlatih. Lalu bagaimana melatih kepekaan? Solusinya satu, membacalah. Fungsikan kesemua indra kita untuk melatih kepekaan tersebut. Mari membaca layaknya antropolog.

Komentar

  1. Sangat Inspiratif, guna mendamparkan makna di ruang sadar. Jika kita memang masih jauh dari peka...!
    Tetaplah dalam satu pilihan, yang muncul dari satu pemikiran, musyawarah serta kedalaman jiwa yang memandang dengan mata kasih orang tua.
    Ini adalah jalan bernama samudra kepahaman, dengan label Antropology Budaya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Berikan komentar, apapun yang sekiranya bermanfaat bagi banyak orang. Ini adalah forum untuk berbagi. Menuliskan satu kebaikan adalah murni untuk kebaikan bersama...

Postingan populer dari blog ini

MASA

Malam itu aku tertuntun dengan tanpa sadar oleh hawa yang tak pernah kurasa sebelumnya. Perlahan tapi pasti aku mulai langkahkan kaki pada anak tangga yang terasa menanjak dan jauh dari jangkauan. Semilir angin subuh semakin terdeteksi. Bertanya dalam hati apakah aku sudah berjalan sangat lama hingga subuhpun datang hampir menyongsong? Nafasku mulai terengah oleh dinginnya bisikan pohon dan tawa jangkrik yang masih terdengar walau sendu. Hati berdebar tak karuan. Bau itu semakin menyadarkanku akan memori lama yang mulai bisa kukubur bertahun lalu. Sayangnya aku tak ingat memori yang mana itu. Dimanakah aku? Terdamparkah aku? Tak tahan diri ini harus bergelut dengan untaian pertanyaan yang terus menderu dalam pikir. Tangga besi yang kunaiki ingatkanku pada deburan langkah kaki masa lalu. Dindingnya masih sama, bangku coklatnyapun masih sama. Jendela itu, ya jendela-jendela itu pun terlihat masih sama dan tak asing bagiku, langit-langitnya yang melengkung juga terlihat akrab oleh mataku....

Jejak

Perjuangan Kaum Intelektual, ibarat mengikuti jejak para Nabi. Terus & terus tanpa kenal lelah menuju sebuah kemandirian masyarakat MADANI & Ridho Allah Semata. Jikalau tak cukup usiaku... Aku berharap akan terus berlanjut pada generasi berikutnya.

Suatu saat nanti

S uatu saat nanti... kita akan lihat gambar ini dimanapun kita berada! Bahkan disetiap pintu hati kaum Dhu'afa... Ada sebuah harapan untuk masa depan... Bukan hanya untuk mereka... Tapi juga untuk dan bagi kita! Ini bukan khayalan... Karena ini PASTI! Jiwa yang putih akan melihat... jauh mendahului yang lainnya! Semoga itu aku ! Semoga itu kamu!